Senin, 02 Maret 2015

Pasaman Kaya Objek Wisata

Selain memiliki objek wisata seperti yang telah disebutkan di atas, ternyata masih banyak lagi objek wisata di Kabupaten Pasaman. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari Pasaman Dalam Angka 2012, tercatat ada 20 ditambah 3 objek wisata yang penulis cari dari sumber lain. Itu menunjukkan bahwa Kabupaten Pasaman dengan ibu kotanya Lubuk Sikaping, kaya akan potensi wisata.

Hanya saja tidak semua potensi wisata terekspose secara meluas. Mungkin hanya museum Tuanku Imam Bonjol dengan Tugu Equatornya dan pemandian air panas Rimbo Panti yang sering dikunjungi wisatawan. Itupun tingkat kunjungannya masih rendah.

Saya tidak tahu kenapa Pemerintah Kabupaten Pasaman 'menelantarkan' objek-objek wisata tersebut. Padahal kalau ditata dan dikelola dengan baik, bukan tak mungkin Kabupaten Pasaman akan lebih banyak dikenal orang. Bukan itu saja. Jika objek-objek wisata itu dikelola secara profesional akan mendatangkan pundi-pundi rupiah. Dan tentu saja roda perekonomian masyarakat akan berjalan dengan baik.



 Berikut objek-objek wisata yang ada di Kabupaten Pasaman :

01. Benteng Tuanku Imam Bonjol - Bonjol

02. Museum Tuanku Imam Bonjol - Alai Baru Bonjol

03. Candi Puti Sangka Bulan - Tanjung Medan, Kecamatan Panti   

04. Benteng Tuanku Rao - Rao

05. Inscribed Stone - Lansek Kodok, Kecamatan Rao Selatan

06. Site/Stone Statue - Padang Nunang, Kecamatan Rao Selatan

07. Batu Basurek - Sarasah, Cubadak Kecamatan Duo Koto

08. Air Terjun Bonjol - Bonjol

09. Hutan Konservasi Alam Lurah Barangin - Bonjol

10. Ikan Larangan - Batu Hampar Bonjol

11. Pemandian Batang Silasuang - Muaro Mangung, Lubuk Sikaping

12. Puncak Bukit Sariak - Muaro Mangguang

13. Air Terjun Salibawan - Salibawan, Kecamatan Lubuk Sikaping

14. Pemandian Air Panas Alam - Jambak, Kecamatan Lubuk Sikaping

15. Air Panas Rimbo Panti - Panti

16. Bendungan Panti Rao - Ampang Gadang, Panti

17. Kolam Renang Air Panas - Panti

18. Arung Jeram Batang Sumpu - Lubuk Gadang Kecamatan Mapat Tunggul

19. Air Terjun 7 tingkat - Lubuk Gadang, Kecamatan Mapat Tunggul

20. Puncak Bukit Pemampangan - Pintu Padang, Kecamatan Mapat Tunggul

21. Air Terjun Surasah - Desa Cubadak, Duo Koto.

22. Tugu Equator - Bonjol

23. Prasasti Lubuk Layang - Nagari Lubuk Layang, Rao Selatan

Minggu, 01 Maret 2015

Prasasti Lubuk Layang

Selain memiliki Candi Tanjung Medan, Kabupaten Pasaman juga memiliki sebuah prasasti yang terletak di Jorong Simpang IV, Desa Kubu Sutan, Kecamatan Rao Selatan, Nagari Lubuk Layang, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat dengan koordinat 00° 31’ 277’’ LU dan 100° 03’ 768’’ BT. Lokasinya terletak sekitar 25 m di sisi tenggara jalan yang menghubungkan Dusun Kubu Sutan dengan Kecamatan Rao. Prasasti tersebut terletak di tengah-tengah areal pemakaman umum, berbatasan dengan pemukiman penduduk di sebelah timur dan barat serta aliran Sungai Tingkarang di sebelah selatan.

Prasasti ini ditulis pada sebuah lempengan batuan sandstone yang kondisinya saat ini dalam posisi miring, karena sebagian terbenam dalam tanah. Ukuran lempengan prasasti yang tampak di permukaan adalah panjang 85 cm, sedangkan sisi lainnya dalam kondisi terbenam dan menyisakan permukaan batu sepanjang 43 cm. Lebar batu adalah 42 cm dan tebal 16 cm. Di bagian atas batu prasasti tersebut saat ini pecah. Pertulisan terdapat di dua sisi. Sisi depan terdiri dari 9 baris, dan beberapa pertulisan di bagian atas hilang. Di sisi belakang terdapat 7 baris tulisan. Kondisi pertulisan secara umum telah aus mengingat bahan yang digunakan cenderung rapuh sehingga menyulitkan upaya pembacaan.

Terdapat dua jenis tulisan pada prasasti Lubuk Layang atau disebut juga dengan Prasasti Kubu Sutan. Kedua tulisan tersebut agak berbeda dengan pertulisan yang biasa dipakai Adityawarman. Namun pertulisan tersebut sangat jauh berbeda dengan pertulisan yang umum dipakai rajaraja Sriwijaya. Pertulisan tersebut lebih mirip dengan pertulisan yang dipakai di Kamboja. Kemungkinan pertulisan tersebut berkaitan dengan Adityawarman, mengingat kebiasaannya menggunakan huruf dan bahasa yang berbeda. 

Keletakan prasasti Kubu Sutan berada di antara dua pusat kebudayaan besar, yaitu Pagaruyung dan Padang Lawas, tentu saja keduanya membawa pengaruh yang cukup kuat. Hal yang sama juga diketahui dari temuan prasasti yang terdapat daerah aliran Sungai Ganggo Hilia. Prasasti ini menggunakan setidaknya dua junis huruf dan bahasa yang berbeda, salahsatunya adalah penggunaan Bahasa Jawa. 

Adapun isi dari pertulisan prasasti tersebut adalah pengumuman mengenai penggunaan mata air, yang boleh dipakai oleh siapa saja, bahkan untuk ternak (Setianingsih, 2006: 74-75). Tidak diketahui siapa yang menulis prasasti tersebut dan untuk tujuan apa sehingga perlu dituliskan dengan huruf dan bahasa yang berbeda? Hal ini menunjukkan bahwa di daerah tersebut terdapat dua kelompok yang menggunakan dua bahasa yang berbeda.